There was once a star maid who put stars in their place every night. she sends blessing to start farming, guidance to show direction for fishing. She throws star for everybody to wish upon, so that way she could send the wishes to The One, universe Creator..
But there’s this one star gazer, not a farmer, not a fisherman. He did nothing but documenting stars that he saw.
She sees what he do. Every night she watch this star gazer, from afar. She eventually give him a sign, within the stars she placed. Hoping that he would know what she wants to show.
He was just a student, it took him years to notice a pattern. It costs him a lifetime to decipher the signs.
But she’s always a star maid, who watch him every single night for decades, and always give him signs to solve, so that he keeps on gazing.
By the end of his days, he finally get what the sign says. Within his last breath he whispers, knowing that she could listen to him;
“I love you too, dear Star Maid..”
And on that night, the most beautiful meteor rain ever on earth, takes place.
When all the natural light in the world turned off, and so lamps and fireplaces too.
No sounds left to vibrate the chill air.
Oh what’s left of us then? A bunch of soulless breathing bodies..
No. I am wide awake dear.. Watching you in your sleep.
Caressing every line of your sillhouette.
I won’t touch the calm vibe and turn on some light.
I’ll just leave everything be like how it was when u close ur eyes.
Let this darkness protects you like an unborn child.
Nyx is the night, the mother of light they say..
And so please don’t bother me, I just wanna watch you.. sleep well till the mother darkness gave u birth.. My sphere of light, Aether.
Life is a cosmic joke
Laugh at it all the way you want
Laugh until you explode
Expose me to ur fire
Let this burn its way to perdition
Fire up fire up fire up!
Expel the metallic shatters
Hundreds of them
Getting into the skin and deeper
Micro stabbing
Profuse bleeding
The ground zero has gone
It has turned into a hollow blackhole
Sucks the life out of everything
This is not a fable
Not an ode
Not a satire
This is just a joke
A grand cosmic joke
Damai adalah milikmu yang senantiasa dalam peluk hangat ibu. Hingga kamu beranjak dewasa, meski ibumu sudah tiada, damaimu nyata. Lalu kau melanjutkan hidup.
Semestinya secara sederhana kau mencinta, berkeluarga, dan wafat diatas taburan bunga-bunga dari orang-orang yang mencintaimu dan kau cintai.
Satu saat kau mulai mengeluhkan hal-hal kecil. Kau rasa menyebalkan, mengesalkan, mengganggu. Kebutuhanmu bertambah, dan terus-menerus bertambah. Satu hari semuanya saru dengan keinginanmu. Kau ingin dunia melayanimu.
Tanpa kamu pernah tau. Tepat dibawah hidungmu, orang berperang diam-diam. Bertaruh harga diri dan nyawa. Menjaga damai mu.
Disaat yang sama ketika ia bergumul dengan musuh, kamu duduk santai disore hari, minum kopi puluhan ribu dan sibuk melihat katalog memilih mobil baru.
Kamu tidak pernah tau, damaimu dijaga oleh darah yang siap tumpah.
Kamu tak pernah sadar, bagaimana sebenarnya duniamu bekerja.
Bahwa sederhanamu itu semu.
Your journey has to end before you complete the quest.
It sucks dear bunny.
But it happens all the time.
You’ve been one great bunny.
A strong and kind bunny.
Now I let your soul rest.
Don’t be a zombie bunny.
Please…
Tak perlu memaksa jadi dewasa.
Mari menjadi keras kepala.
Lebih dari yang merasa bijaksana.
Selamanya di Neverland
Two compounds, too unstable.
Each are easily flammable.
Wonder if the nature’s law is true.
What if I let myself being bound to you?
Blue is nothing but you. Not the vast ocean before you. Not the immense sky that you are belong to.
Truth is never good enough when we found it. We tally to it a lil bit of this and that until it turns into a lie. Lie is our craddle, that we have to leave once we grow up.
Its not black, white, green, yellow or red, that is the color of the virtue. Its blue. Its you.
Dua orang duduk di rerumputan dalam jarak yang memungkinkan mereka berbincang-bincang dengan latar suara aliran sungai didepan mereka. Yang satu seorang perempuan muda, dan yang lainnya seorang lelaki tua.
Lelaki tua itu pedagang yang beristirahat sebelum akan pulang, sedangkan perempuan muda itu tidak terlalu jelas sebabnya dan bagaimana ia sampai dapat berada di tempat itu sore ini. Dari penampilannya, tebakan terbaik orang-orang yang melihatnya adalah ia seorang pengembara, dan itu tidak sepenuhnya salah.
Langit dipelupuk timur berangsur gelap, dan jingga mulai menjalar dari barat. Sang perempuan muda semakin banyak menghela nafas. Lelaki tua yang lelah sebentar lagi akan pulang, namun ia memutuskan untuk mengajak perempuan ini bicara dahulu sejenak. Ia merasa banyak yang perempuan itu simpan dibenak. Laki-laki tua pernah mengenal seseorang di masa mudanya yang seperti itu; menyimpan semuanya sendiri hingga memenuhi rongga dada dan sulit bernafas. Ia ingin membantu perempuan itu mengurai sedikit makna yang menyesaki pikirannya.
“Tidak pernah berhenti ya, sungai ini mengalir. Walaupun mungkin sudah ribuan tahun” lelaki tua membuka percakapan. Lalu terbatuk beberapa kali. Kesehatannya tidak terlalu baik rupanya.
Perempuan muda menghela nafas sekali lagi. Lalu mengangguk. “kemana sungai ini mengalir?”
“Laut Yare, lalu ke samudra yang luas sekali. Tidak pernah berubah. Selalu begitu”
“Begitu alami…”
“Ya, Laut Yare adalah rumah bagi aliran sungai ini. Tentu saja alirannya kesana berlangsung alami”
“rumah…”
“Iya, tempatnya pulang berakhir disana. Kau pun tentu punya tempat seperti itu… Di Blackwoods misalnya”
Perempuan muda tersenyum, menatap wajah lelaki tua yang dihiasi kerut-kerut yang dipahat waktu disana. Sesuatu yang dulu sangat ditakutkan perempuan itu, ketakutan itu disesalinya saat ini.
“Ada. Namun, jalanku kesana tak pernah terasa alami seperti aliran sungai ini. Jalan itu panjang, dan sulit. Dan.. bukan Blackwoods”
“mungkin… yang kau tuju itu… bukan rumahmu yang sesungguhnya” suara lelaki tua bergetar.
Perempuan muda itu tersenyum lagi, dan menggeleng kecil. “tidak ada rumah yang lain lagi, hanya itu tempatku pulang. Aku pernah berpikir begitu juga. Tapi…, ternyata apa yang menjadikan sebuah tempat itu rumah bukanlah jarak tempuh dan derajat kesulitan jalan menuju kesana.”
Lelaki tua terbatuk beberapa kali lalu butiran air mata mulai membasahi wajah letihnya. “lalu apa?” Ia menatap perempuan muda itu, kerinduan yang dibendungnya berpuluh-puluh tahun bagaikan merembes keluar lewat tatapan dan air matanya.
“Pulang adalah menuju ketempat aku merasa tak perlu menahan diri dari lelah, marah, dan sedih. Rumah adalah tempat dimana hati akan selalu tersusun lagi bahkan setelah hancur berantakan. Kesulitan kesana bukan sesuatu yang membuatku berhenti berusaha ditengah.”
Perempuan itu pun mulai menangis, kerinduan yang sama besarnya tercurah keluar saat ia menatap lelaki tua itu.
“Sudah berapa lama kau mencoba untuk pulang? Sudah berapa jauh kau berjalan?” Tanya lelaki tua, masih dengan air mata. Awalnya ia ingin membantu mengurai benak lawan bicaranya ini. Namun kini benaknyalah yang diuraikan.
“Tidak ingat, 20, 30, mungkin 40 tahun. Aku tidak hanya berjalan menuju kesana, aku juga berlayar dan mendaki. Banyak yang sudah kulihat diperjalanan. Dan aku masih terus dijalan pulang”
“Waktuku sudah akan habis…. Aku sudah tua, sebentar lagi mati, bisa jadi besok, atau bahkan satu menit lagi” lelaki itu terbatuk lagi.
“Ya.., itulah yang akan kucari selanjutnya. Kematian. Itu bisa mengantarku kerumah” Perempuan itu mendekat, tangannya menjangkau wajah pria tua. Ia mengusap airmata yang semakin deras mengalir dari mata tua itu.“Karena rumah ku.. adalah disisimu”
Setelah kalimat terakhir, perempuan muda itu memudar, lalu hilang bagai ditiup angin begitu saja.
Lelaki tua itu, masih dalam air mata yang jatuh satu demi satu, membayangkan kediamannya, istrinya yang baik, dan anak-anak laki-lakinya yang cerdas dan tangguh, dan anak-anak perempuannya yang pandai dan anggun. Karir militernya yang cemerlang, hingga ia dapat pensiun lalu mulai berdagang hanya untuk memberi orang lain pekerjaan, karena ia tidak kekurangan harta. Betapapun ia berpikir bahwa segalanya sempurna, jauh di dalam lubuk hati-nya yang terdalam dan semakin dalam karena selama ini ia kubur didasar tergelap, hanya satu tempat yang ia ingat pernah merasa disana tak perlu menahan diri, dan memikirkan apapun. Karena ia tau seremuk apapun hatinya, akan kembali seperti semula ditempat itu.
Perempuan muda itu memang lebih muda darinya, namun sebenarnya hanya 2 tahun, bukan 40-an tahun seperti yang terlihat. Dan ia tau, hanya disisi penyihir abadi itulah tempat yang sepenuh hati diakuinya sebagai rumah.
Ia merasa rindu yang teramat sangat, pada rumahnya. Sesungguhnya selalu begitu, namun tak ada satu orang pun yang tau.
Kini, Ia tak sabar lagi untuk pulang, selamanya.
-bandung, disebuah kamar, sedang akan berdoa untuk seseorang-